Upacara Ngretakeun Bumi Lamba
Oleh Sarbani Akil · 13 Agustus 2023
Sampurasun 🙏
Dokumentasi dan informasi acara tersedia melalui tautan Instagram berikut.
Lihat di InstagramWarita Meniti Rasa
"Urang jeung alam taya antarana, mun aya antarana urang rek cicing di mana?" (Kita dengan alam tiada antaranya, bila ada antaranya kita kan berdiam di mana?). Demikian penggalan bait dari salah satu rajah atau kidung do'a.
Peradaban Sunda (pada konteks ini pengertian 'peradaban' sama dengan 'adab-adaban' atau laku etik dan berpengetahuan. Serta pengertian 'Sunda' bukan etnis maupun geografis) menjunjung alam semesta sebagai orang tua atau nenek moyang atau Leluhur berasaskan atas keniscayaan dari mana muasal keberadaan kita (manusia). Bapak Angkasa Ibu Bumi.
Sebagaimana ketentuan arah gerak alam semesta, Bapak Angkasa dengan Ibu Bumi 'melahirkan' kita guna kesempurnaan rasa Nganuhunkeun, atau rasa Terima Kasih atas anugerah hirup jeung huripna (hidup dan kehidupannya), atau rasa Syukur dari yang diciptakan kepada Hyang Maha Pencipta.
Bagaimana kita bisa paham bila arah gerak alam semesta sampai terjelma manusia itu merupakan penyempurnaan rasa Nganuhunkeun dari sang ciptaan kepada Hyang Maha Pencipta? Kita akan paham dengan sendirinya tanpa perlu rumus di lembaran buku maupun pemodelan di laboratorium, melainkan dengan cara menyadari bahwa RAGA dan RASA kita ini merupakan bangunan senyawa paling mutakhir dari gerak alam semesta, lalu dilaju dengan Nganuhunkeun, maka sampailah di kemuncak RASA! Barang apa yang menjadi petunjuknya? Rasa Nganuhunkeun, di bentang suasana apapun, telah menghantarkan kita berada pada kenyataan genah atau nikmat atau berada pada kenyataan apa yang dikatakan: SEJAHTERA.
Berulang ke penggalan bait rajah yang dikutip di awal, telah jelas memastikan bahwasanya kita dengan alam semesta, kita dengan Bapak Angkasa Ibu Bumi, benar-benar manunggal adanya! Rasa kita rasa alam semesta.
Penjelasan berpanjang kata tsb dapat pula dipersingkat melalui padanan bahasa dramatik: "bersyukurlah kepada Tuhan maka semua makhluk sejahtera!"
Kemudian apakah gerak alam semesta menuju kesempurnaan terhenti di setiap kita secara orang-perorang? Ada pepatah Inggris yang mengatakan: "no body perfect but team can be". Yang artinya: "tidak ada orang yang sempurna akan tetapi 'tim' bisa". Memang pepatah ini lebih ditekankan kepada kelompok kerja yang kecil, namun di kedalaman pepatah tsb menyiratkan adanya dorongan alamiah di setiap kita secara orang-perorang untuk menggapai kesempurnaan yang lebih tinggi. Dorongan alamiah itulah yang menggerakan kesadaran kita untuk membentuk suatu BANGSA yang di- raga -kan pada suatu badan yang dinamakan: NAGARA.
Sehingga berguru kepada Sunda dengan mengindahkan peradabannya akan menumbuh-kembangkan kesadaran berbangsa dan bernegara selaju gerak alam semesta meninggikan kesempurnaan rasa Nganuhunkeun bagi kesejahteraan semua ciptaan (makhluk).
Warita di atas sudah sepengertian dengan saripati (hakikat) dari apa yang telah dituturkan oleh orang-orang suci, orang-orang yang mencapai kesempurnaan pengetahuan, di masa lampau di manapun beliau-beliau ini terlahir.
Warita Menata Raga
Secara sendirinya rasa kan mengalir menata raga. Meminjam lagi pepatah Inggris yang telah disinggung di warita sebelumnya, 'bangsa' bolehlah diibaratkan 'team' seturut maksud pepatah tsb. Pada tataran bangsa, aliran rasa tidak lagi me- raga olehnya sendiri, tetapi diperagakan oleh kesadaran berbangsa menuju ke kesempurnaan tertinggi. Karenanya merupakan kepatutan bagi suatu bangsa yang beradab manakala ia memperagakan rasa Nganuhunkeun! Dengan memperagakan rasa Nganuhunkeun, manusia berbangsa itu hakikinya tengah meninggikan kesempurnaan rasa Nganuhunkeun dari semesta ciptaan, dan artinya menunaikan 'tugas' dari orang tua atau nenek moyang, atau Leluhur, atau Bapak Angkasa Ibu Bumi. Dan searti pula dengan mensejahterakan alam semesta yang dalam bahasa tuanya: "ngretakeun bumi lamba".
Warita Upacara Ngretakeun Bumi Lamba
Berkenaan semua itu tata cara memperagakan rasa Nganuhunkeun senantiasa akan menjadi ciri suatu bangsa. Menginsyafi bila ke-adiluhung-an suatu bangsa adalah karunia dari Hyang Maha Pencipta maka seyogianya ia mempunyai pe- RAYA -an puncak peragaan rasa Nganuhunkeun, di mana dalam tata caranya, seluruh ke-adiluhung-an yang dimiliki digebyarkan. Pelaksanaan pe- RAYA -an tsb dicurahkan dalam sebuah upacara di 'waktu yang terpilih' di 'tempat yang di mana sandi Sunda terpatri'. (Sekali lagi dan perlu digaris-bawahi Sunda di sini BUKAN etnis maupun geografis melainkan mengenai peradaban!)
Tuntunan laku untuk kesejahteraan hidup manusia, negara, dan buana tertera dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian yang dipetuahkan oleh Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata (Prabu Siliwangi) di awal abad ke 16 masehi. Yang isinya:
“Ini pakeun urang NGRETAKEUN BUMI LAMBA, caang jalan, panjang tajur, paka pridana, linyih pipir, caang buruan. Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje kaeusi, huma kaomean, sadapan karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana sama wong (sa)rat. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok tumuwuh sarba pala wo(h)wohan, dadi na hujan, landung tahun, tumuwuh daek, maka hurip na urang reya. Inya eta sanghyang sasana kreta di lamba nga-rana”
Artinya:
“Ini (jalan) untuk kita menyejahterakan dunia kehidupan, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, bersih halaman rumah. Bila berhasil rumah terisi, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, lama hidup, selalu sehat, sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan, rumput, pohon-pohonan, rambat. semak, hijau subur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya itulah (sanghiyang) sarana kesejahteraan dalam kehidupan namanya".
Di masa kini para Guru Bangsa pendahulu, salah seorangnya Yang Mulia Kang Lalam Wiranatakusumah (alm), telah memberi arti yang bernas atas kalimat "ngretakeun bumi lamba" yaitu: "mensejahterakan alam semesta". Yang memang tugas melekat pada manusia Sunda rumingkang di bumi alam.
Alangkah absah menamakan upacara pe- RAYA -an rasa Nganuhunkeun menggunakan kalimat "Ngretakeun Bumi Lamba". Kalimat ini secara saksama merajahkan keutamaan tujuan dari upacara.
Upacara Ngretakeun Bumi Lamba (NBL), sesuai keseluruhan warita di atas, sudah semestinya merupakan bagian dari upacara kenegaraan. Selain karena RAGA -nya bangsa adalah NAGARA, juga memang sebangun dengan makna yang terkandung dalam "Naraga Ragana Nagara" : di raga kita terlekat raganya Negara.
Tata Pelaksanaan Upacara NBL
'waktu yang terpilih' :
Citra pribadi Bapak Angkasa memancar dari matahari. Gerak matahari membarengi sinarnya menumbuh-kembangkan kehidupan di muka bumi dalam alunan ritme waktu. Gerak dari timur menyingsing terbit hingga lingsir terbenam di barat gulirkan siang dan malam mencipta ritme hari. Seiring itu gerak langsam berayun ke selatan dan berayun ke utara gulirkan musim mencipta ritme tahun.
Sumber kata Sunda dari Su = sejati, Na = api, Da = agung, "sejatinya api agung" merujuk ke matahari. Sunda menumbuh-kembangkan peradaban manusia.
Disebutkan sejak zaman yang sangat lampau di masa awal manusia menerima kecerdasan, manusia menciptakan ritme waktunya sendiri dengan daur waktu 7 (tujuh) harian. Sebagai bentuk penghormatan kepada Bapak Angkasa disematkanlah nama-nama benda angkasa di tiap-tiap harinya. Hari pertama disematkan matahari: Radite (Ra = matahari, dite = date = dinten = hari), hari kedua: Somadite (Soma = bulan), hari ketiga: Anggara (planet Mars), hari keempat: Budha (planet Merkurius), hari kelima: Wrespati (planet Jupiter), hari keenam: Sukra (planet Venus), hari ketujuh: Saniscara (planet Saturnus).
Sunda lir ibarat matahari sehingga 'hari Sunda', atau 'hari bertumbuh-kembangnya peradaban manusia', terpilihlah Radite (Minggu). Namun untuk menentukan 'waktu yang terpilih', ritme ciptaan manusia ini dijumpakan dengan ritme tahun ciptaan matahari.
Di Indonesia dalam satu tahun bergulir 2 (dua) musim besar. Semasa matahari berayun di belahan bumi selatan bergulirlah musim penghujan dan semasa matahari berayun di belahan bumi utara bergulirlah musim kemarau. Di musim penghujan air berlimpah disambut banyak tumbuhan bertumbuh, di musim kemarau banyak tumbuhan kering terdiam. Semasa musim penghujan saatnya bercocok tanam waktunya mengiring tetumbuhan bertumbuh. Semasa musim kemarau cocoknya berkegiatan lain selain bertanam termasuk bergiat mementaskan perayaan. Begitulah jika ditarik garis besarnya.
Karena perayaan pantas dipentaskan di musim kemarau, karena musim kemarau semasa gerak matahari berayun dibelahan bumi utara, maka tatkala matahari di titik puncak utara sepantasnya jadi penentu ritme tahun untuk penetapan 'waktu yang terpilih'. Atau supaya elok dicerna bisa di-seloka-kan: "di kala mana matahari meng-Utara-kan diri, di kala itu manusia mengutarakan Sunda"
Kesimpulannya: 'waktu yang terpilih' untuk pelaksanakan upacara NBL ialah di Radite tepat dan/atau beberapa saat sesudah matahari di titik puncak utara.
'tempat yang di mana sandi Sunda terpatri' :
Gunung merupakan bagian tubuh Ibu Bumi yang meninggi menghampiri langit mahligai Bapak Angkasa. Gunung juga perlambang keluhuran Ibu Bumi memupuk kesuburan. Dari gunung memuncur air, sumber dari mana sungai-sungai mengalir menunjang kehidupan. Barang tentu kebijaksanaan terhadap lingkung gunung kan diterapkan pangkat loka suci atau Kabuyutan.
Kata lain dari gunung ialah 'giri' yang setimbang erti dengan 'guru'. Bukan bermuluk kata jika 'gunung' diartikan 'guru nu agung'. Dari guru mengucur pengetahuan, sumber dari mana sungai peradaban mengalir.
Guru Nu Agung Sunda atau gunung Sunda terletak di pulau Jawa sebelah barat di utara kota Bandung (bandung = saksama/simak) di daerah Lembang (= lambang). Gunung Sunda kemudian memunculkan gunung Tangkuban (tingkeban) Pa-Ra-Hu (Pa = tempat, Ra = matahari, Hu = luhur/atas) dan Jayagiri (= guru gemilang/unggul). Di lingkung ini pun tersimpan harta tak ternilai di dalam selubung dongeng SANGKURIANG. Harta tak ternilai tsb berupa SUSASTRA tentang mula manusia menata negara, mula manusia berperadaban.
Sandi berselubung nama-nama dan dongeng sudah tersingkap dan dibuat terang oleh Yang Terhormat Rama Guru LQ Hendrawan atau Abah Uci. (selengkapnya ada di lampiran)
Kesimpulannya: 'tempat yang di mana sandi Sunda terpatri' untuk pelaksanaan upacara NBL ialah di Kabuyutan gunung Tangkuban Parahu, di pangkuan Jayagiri di kajeroan (kedalaman) gunung Sunda. Pun selurus arah pituduh (petunjuk/nasihat) Kokolot. Yang disampaikan oleh Yang Mulia Jaro Dainah (alm) selaku Jaro Pamarentahan Kanekes (Baduy) di tahun 2006. (Kanekes, Kabuyutan, Jayagiri selengkapnya ada di lampiran)
Dimungkinkan juga nama Tangkuban Parahu itu sebentuk bahasa sindir yang sebenarnya mau menyatakan: "ini tempat rahasia (tangkub/tingkeb/tertutup)-nya matahari dengan bumi atau Bapak Angkasa dengan Ibu Bumi bercengkrama menyatukan diri"
dasar tata cara
Rasa Nganuhunkeun niscaya terungkap indah sepenuhnya. Indah terlihat, indah terdengar, indah tercium, indah tercicip, indah teraba. Sebaik-baik cara membahasakannya yaitu lewat karya seni. Karena seni titisan kirana, karena karya seni laksana bejana di mana budi yang bersemayam di dalam diri manusia dengan daya yang bersemayam di dalam badan manusia larut memancar pesona. Karena di situ ke-adiluhung-an bisa digebyarkan.
Bahwa sudah suratan di setiap karya selain akan bertian rasa si pekarya, juga sekalian akan berpamor nilai luhurnya. Pada kesempatan ini (upacara NBL) anak manusia seikat bangsa tengah merayakan Maha Karya -nya. Sehingga memiliki kepatutan untuk dipersembahkan kepada para Leluhur yakni dari para pendahulu sampai ke Bapak Angkasa dan Ibu Bumi, di kediaman-Nya di Kabuyutan gunung Tangkuban Parahu.
tata dasar pendahuluan upacara
Sesuai yang dikisahkan para pendahulu tentang gunung Sunda Purba yang tingginya sampai menyentuh langit yang mana puncaknya sudah terang di pagi buta dan masih benderang ketika hari sudah gelap. Keluhuran gunung Sunda masa purwa menjadi hulu dari patanjala (sungai atau jalannya air) yang mengalir ke semua penjuru mata angin. Yang mengalir ke arah timur sejauh-jauhnya ke timur, yang mengalir ke arah selatan sejauh-jauhnya ke selatan, yang mengalir ke arah barat sejauh-jauhnya ke barat, yang mengalir ke arah utara sejauh-jauhnya ke utara. Patanjala juga perlambang susastra atau pengetahuan hidup bakal dari bertumbuh-kembangnya peradaban.
Karenanya kisah itu dibahasakan di dalam upacara NBL dengan menyatukan air dari segala penjuru mata angin (sejauh-jauhnya). Terjemahannya: datang kembali dari segala arah kesadaran akan satu muasal. Cerminan berkhidmat kepada daur kehidupan. Acara penyatuan air didudukan di tahap pendahuluan upacara dan dilaksanakan sehari sebelum puncak upacara di Radite di mandala Tangkuban Parahu. Atau di Saniscara di akhir daur 7 harian ( wuku/week ).
Tempat pelaksanaannya di Wastu Guru Siliwangi di Babakan Siliwangi sebagai mantra (dalam bentuk ruang) penghantar penyatuan sedalam peristiwa perkawinan. Untuk kemudian menjadi tirta (air suci) yang dibutuhkan di keseluruhan upacara termasuk peranti utama yang dipersembahkan.
Jalannya keseluruhan upacara diatur oleh panitya: Pangerta Bumi Lamba
Penutup
Sesungguhnya upacara NBL itu sendiri me- rupa -kan Ka-Agung-an (dalam bhs Sunda berarti juga: kepunyaan) Hyang Maha Pencipta.
TABE PUN, RAHAYU SAGUNG DUMADI 🙏
Lampiran
Di abad ke 13 Masehi: Sang Rakéyan Darmasiksa, Pangupatiyan Sanghiyang Wisnu, Inya Nu Nyieun Sanghiyang Binayapanti, Nu Ngajadikeun Para Kabuyutan Ti Sang Rama, Ti Sang Resi, Ti Sang Disri, Ti Sang Tarahan, Tina Parahiyangan atau Prabu Guru Darmasiksa Paramarta Sang Mahapurusa sebagai raja (Kepala Negara) menyerikan titahnya terkait loka suci ( Kabuyutan ). Baginda Raja mewajibkan semua pihak beserta keturunanannya, kendatipun dalam keadaan perang, agar menjaga dan memelihara Kabuyutan demi keberlangsungan serta kewibawaan bangsa dan negara. Kabuyutan wajib dipertahankan hingga tetes darah penghabisan! Titah Raja tsb menandaskan kedudukan Kabuyutan adalah bagian dari tatanan negara.
Urang Kanekes (Baduy) mengemban tugas memelihara Kabuyutan gunung Kendeng beserta jaringan urat buminya sampai ke Ujung Kulon (Sanghyang Sirah). Sebagaimana mestinya masyarakat pemelihara Kabuyutan, Urang Kanekes dititahkan melakoni hidup bertapa yang mana harus merawat kebersihan rohani dari gemerlap keduniaan. Perbawa melakoni hidup bertapa selumrahnya akan memiliki kekuatan firasat serta ketajaman membaca tengara alam. Selumrahnya pula menyandang martabat Kokolot. Dari ke-bisa-an tsb, Urang Kanekes selaku Kokolot, memberi nasehat baik kepada masyarakat umum maupun pemangku negara. Menimbang kedudukan Kabuyutan bagian dari tatanan negara sedang masyarakat pemeliharanya tak terpisahkan, setidaknya menurut pijakan budaya, nasihat Urang Kanekes mempunyai bobot kenegaraan. Di tahun 2006 Yang Mulia Jaro Dainah (alm) selaku Jaro Pamarentahan Kanekes menyampaikan pituduh (petunjuk/nasehat) kepada Urang Bandung supaya menunaikan tugas mulasara atau ngarawat-ngaruwat (memelihara) loka suci Kabuyutan 3 gunung: Gunung Wayang, Gunung Gede Pangrango, dan Gunung Tangkuban Parahu.
Dalam prasasti Kabantenan, yang ditatahkan di atas lempeng tembaga, pun Prabu Siliwangi menyinggung Kabuyutan Jayagiri. Menimbang betapa pentingnya gunung sebagai penunjang kehidupan maka gunung Jayagiri di kawasan gunung Tangkuban Parahu dapat dipastikan turut dikenakan pangkat loka suci Kabuyutan.
Mengenai hasil penyingkapan berbagai sandi yang terpatri di kawasan Bandung oleh Yang Terhormat Rama Guru LQ Hendrawan (Abah Uci) dimuat di lembar tersendiri.