Rawayan Jati Kertarahayu

Wiranatakusumah V

Potret Raden Adipati Aria Haji Muharam Wiranatakusumah V

Raden Adipati Aria Haji Muharam Wiranatakusumah

1888 — 1965

Hana nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke
Hana tunggak hana catang tan hana tunggak tan hana catang
Kiwari nyanding bihari, kiwari seja sampeureun jaga

Tak akan ada hari ini, jika tak ada kemarin.
Hari ini adalah harapan yang terkait masa lalu — hari ini menentukan hari esok.

Ringkasan Tokoh

Jejak kepemimpinan publik

Wiranatakusumah V dikenal sebagai bangsawan, birokrat, dan negarawan Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pertama Republik Indonesia, Ketua Dewan Pertimbangan Agung, Bupati Cianjur, Bupati Bandung (dua periode), Wali Negara Pasundan, serta Penasehat Pribadi Presiden Soekarno selama satu dasawarsa.

Menteri Dalam Negeri ke-1 Bupati Bandung Wali Negara Pasundan Ketua DPA
Gagasan Utama

Warisan nilai

Keteguhan pada prinsip keadilan, kedekatan dengan rakyat, perhatian pada pendidikan dan pers pribumi, dukungan terhadap Sarekat Islam, serta kecintaan pada seni budaya Sunda menjadikan sosok beliau teladan yang relevan lintas generasi. Ia pula yang merintis berdirinya Universitas Padjadjaran.

Pendidikan Rakyat Keislaman Budaya Sunda Pendiri UNPAD
Profil

Data Singkat

Identitas Pribadi

Nama Lengkap
R.A.A.H.M. Wiranatakusumah V
Nama Kecil
Muharam
Tempat Lahir
Bandung
Tanggal Lahir
23 November 1888
Wafat
22 Januari 1965
Nama Ayah
R. Adipati Koesoemahdilaga (Bupati Bandung 1874–1893)
Nama Ibu
R. Ayu Soekarsih
Jumlah Anak
24 (12 laki-laki, 12 perempuan)

Pendidikan

1901
ELS Bandung (tamat)
1904
OSVIA Bandung, sampai kelas atas
1910
HBS V (KW III) — Gymnasium Batavia

Riwayat Pekerjaan di Lingkungan Pemerintahan

  • 1910Juru tulis Wedana Tanjungsari, Sumedang
  • 1911Mantri Polisi di Cibadak, Ciheulang, Sukabumi
  • 1911Mantri Polisi di Sukapura, Tasikmalaya
  • 1912Asisten Wedana Cibeureum, Tasikmalaya
  • 1912–20Bupati Cianjur (usia 24 tahun)
  • 1920–31Bupati Bandung Periode Pertama
  • 1931–35Anggota Volksraad (Dewan Rakyat) & Gedelegeerden di Batavia
  • 1935–45Bupati Bandung Periode Kedua (termasuk masa Jepang)
  • 1945Menteri Dalam Negeri Pertama Republik Indonesia
  • 1945–48Ketua Dewan Pertimbangan Agung & Penasehat Menteri Dalam Negeri
  • 1948–50Wali Negara Pasundan
  • 1945–55Penasehat Pribadi Presiden Soekarno
  • 1957Perencana dan Pendiri Universitas Padjadjaran Bandung

Riwayat di Luar Pemerintahan

  • 1914–17Pelindung Majalah Tjahaja Pasoendan
  • 1921–24Pimpinan Umum Majalah Obor
  • 1921–29Anggota Volksraad dari Sedio Moelio (Perkumpulan Bupati Belanda)
  • 1926Anggota Dewan Provinsi Jawa Barat
  • 1929Mendirikan PPBB (Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumiputra)
  • 1929–35Pimpinan Umum Majalah Pemimpin
  • 1936Panitia Kongres PSSI di Bandung & ikut mensponsori Persib

Kunjungan Luar Negeri & Penghargaan

  • 1924Menunaikan Ibadah Haji ke Mekkah
  • 1927–28Studi banding koperasi & bank perkreditan rakyat ke Eropa dan Belanda
  • 1982Dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Soeharto (postumus)
  • 1997Piagam Tanda Penghargaan Satya Karya Bhakti Pendidikan dari Universitas Padjadjaran
Linimasa

Jejak Pengabdian

1888

Lahir di Bandung

Lahir pada 23 November 1888 dengan nama kecil Muharam. Putra dari R. Adipati Koesoemahdilaga (Bupati Bandung) dan R. Ayu Soekarsih. Ketika berusia 5 tahun, ayahnya wafat. Ia kemudian dididik ibunya hingga usia 9 tahun, lalu dititipkan kepada keluarga Adams untuk mendapatkan pendidikan formal ala Barat atas anjuran Prof. Snouck Hurgronje.

1910

Memasuki Dunia Birokrasi

Setelah meraih diploma dari HBS Batavia, mulai berkarier sebagai Juru Tulis Wedana di Tanjungsari, Sumedang. Dalam dua tahun, kemajuan kariernya luar biasa — dari juru tulis bergaji f 30 menjadi Bupati Cianjur bergaji f 1.200.

1912–1920

Bupati Cianjur

Pada usia 24 tahun diangkat sebagai Bupati Cianjur — pencapaian yang sangat jarang. Prestasi besarnya: mengubah rawa Cihea, Ciranjang yang menjadi sarang malaria menjadi pesawahan seluas 3.000 bau. Kabupaten Cianjur mendapat otonomi pengelolaan daerah pertama di Hindia Belanda berkat karyanya.

1920–1931 & 1935–1945

Bupati Bandung

Memimpin Bandung selama dua periode total 21 tahun. Dikenang sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, mendukung gerakan Sarekat Islam, mendirikan PPBB (Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumiputra), menjadi penyokong pers berbahasa Sunda, serta menggagas pagelaran seni pertama di ruang terbuka Bandung.

1945

Menteri Dalam Negeri Pertama RI

Diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Presidensil pertama pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945. Ia segera keliling Jawa untuk mengkonsolidasikan para pemimpin daerah mendukung RI yang baru berdiri. Akibat kerja keras tanpa henti, menderita sakit dan lumpuh pada kaki — namun tetap menjalankan tugas.

1945–1948

Ketua Dewan Pertimbangan Agung

Dilantik sebagai Ketua DPA dan Penasehat Menteri Dalam Negeri sejak 29 November 1945. Dalam sidang BPUPKI, turut menyumbangkan pemikiran penting tentang sistem ketatanegaraan dan penyusunan UUD 1945.

1948–1950

Wali Negara Pasundan

Menerima mandat Wali Negara Pasundan atas desakan rakyat Jawa Barat dan persetujuan pimpinan RI di Yogyakarta — dalam kondisi sakit, diantar Wakil Presiden Moh. Hatta dari Yogyakarta ke Bandung. Pada 8 Maret 1950 ia membubarkan Negara Pasundan dan mengembalikan Jawa Barat ke pangkuan Republik Indonesia.

1945–1955

Penasehat Pribadi Presiden Soekarno

Selama satu dasawarsa menjadi Personal Adviser kepercayaan Presiden Soekarno, sambil tetap aktif memimpin PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) Jawa Barat. Pada Pemilu 1955 terpilih sebagai anggota konstituante.

1957

Pendiri Universitas Padjadjaran

Merencanakan dan mendirikan Universitas Padjadjaran Bandung, meletakkan fondasi pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi di Jawa Barat.

1965

Wafat

Setelah sakit lebih dari dua tahun, wafat pada 22 Januari 1965. Meninggalkan warisan pengabdian selama 40 tahun (1910–1950) yang dokumen-dokumennya masih terbilang utuh dan terus ditemukan oleh keluarga besar Wiranatakusumah V.

Kinerja & Prestasi

Warisan Nyata

Berpengalaman di lingkungan pemerintahan selama 40 tahun (1910–1950), Wiranatakusumah telah menghasilkan knowledge management yang sangat kaya — sejumlah prestasinya bahkan melampaui kinerja birokrasi paling mutakhir sekalipun.

01

Pesawahan Cihea & Otonomi Daerah

Mengubah rawa Cihea, Ciranjang yang menjadi daerah endemik malaria menjadi pesawahan seluas 3.000 bau (±2.100 ha). Prestasi ini mengantarkan Cianjur mendapat otonomi pengelolaan daerah pertama di Hindia Belanda pada 1917.

02

Dukungan kepada Sarekat Islam

Bupati yang berani membantu penyelenggaraan Kongres Nasional Sarekat Islam 1916 di saat bupati lain di Jawa Timur mengancam akan "memotong kuping" bawahannya yang bergabung SI. Ia dianggap beschermheer dari hampir semua perkumpulan Islam.

03

PPBB — Organisasi Pegawai Bumiputra

Pada 1929, atas inisiatif dan kerja kerasnya, berhasil menghimpun pangreh praja pribumi untuk bersatu dalam organisasi PPBB (Perhimpoenan Pegawai Bestuur Boemipoetra) — memperjuangkan kepentingan para pemimpin dan rakyat.

04

Pers & Jurnalisme Sunda

Penyokong majalah berbahasa Sunda pertama Tjahaja Pasoendan (1914), mendirikan dan memimpin surat kabar Obor (1921–1924) dan majalah Pemimpin (1929–1935) sebagai media komunikasi antara birokrasi dan rakyat.

05

Loetoeng Kasaroeng — Film Nasional Pertama

Pada 1926 membantu membiayai film bisu yang dibesut sutradara G. Krugers dan L. Heuveldorp, di bawah NV. Java Film Company. Film Loetoeng Kasaroeng yang diputar di Bioskop Elita dan Majestik dianggap sebagai tonggak sejarah perfilman nasional.

06

Pendiri Universitas Padjadjaran

Pada 1957 merencanakan dan mendirikan Universitas Padjadjaran Bandung. Atas jasanya, Rektor UNPAD menganugerahkan Piagam Tanda Penghargaan Satya Karya Bhakti Pendidikan (September 1997).

Pendirian & Sikap

Suara Sejarah

"Kitalah yang mula-mula beroleh kepercayaan yang maha penting ini, kitalah yang mula-mula dipercobakan akan menjalankan perintah dengan menurut pikiran sendiri yakni akan memajukan negeri dan memimpin rakyat kepada kemajuan dan kepada kesentosaannya."

— R.A.A. Wiranatakusumah V, pidato Bupati Cianjur, 1917

"Saya rasakan, bagaimana sejak kecil saya, hati saya tertarik ke dalam dunia Bumiputera, dan saya rasakan pula betapa beberapa hal yang mendesak saya ke dunia Eropa. Dua dunia itu diakuinya membuatnya gamang dan mengalami pertentangan batin. Sekalipun demikian, ia mengakui bahwa pada akhirnya berhasil 'mendamaikan' dunia Timur dan Barat di dalam batinnya."

— R.A.A.H.M. Wiranatakusumah V, tentang dua dunia yang ia jalani

"Sarekat Islam memenuhi kebutuhan rakyat yang sesungguhnya. Organisasi itu memberikan bantuan moral dan keuangan pada saat dibutuhkan, misalnya pada waktu kematian seorang anggota keluarga. Sarekat Islam berani membela rakyat terhadap kepada desa dan menyuarakan keluhan-keluhan rakyat."

— R.A.A. Wiranatakusumah V, selaku Bupati Cianjur
Sejarah Gelar

Jejak Wiranatakusumah dalam Sejarah Priangan

Nama Wiranatakusumah merupakan gelar kebangsawanan yang melekat pada para Bupati Bandung dalam lintasan sejarah Tatar Sunda.

Dalam tradisi Sunda, gelar lebih dikenal dibandingkan nama lahir. Oleh karena itu, para tokoh Wiranatakusumah dikenang melalui peran dan kepemimpinannya dalam masyarakat. Sebagian besar nama lahir tidak tercatat secara luas dalam arsip sejarah, mencerminkan tradisi penamaan yang menonjolkan gelar jabatan.

Makna Nama

Wirana — keberanian & kepemimpinan

Kusumah — keharuman & kemuliaan

"Pemimpin yang membawa keharuman bagi masyarakatnya."

Wiranatakusumah I
1763 – 1794

Tumenggung Anggadiredja III

Raden Adipati Wiranatakusumah I — pendiri garis gelar yang diwariskan turun-temurun.

Wiranatakusumah II
1794 – 1829

Wiranatakusumah II

Raden Tumenggung Wiranatakusumah II

Wiranatakusumah III
1829 – 1846

Wiranatakusumah III

Raden Adipati Wiranatakusumah III

Wiranatakusumah IV
1846 – 1874

Wiranatakusumah IV

Raden Adipati Aria Wiranatakusumah IV — ayah kandung dari R.A.A.H.M. Wiranatakusumah V.

Wiranatakusumah V
1920–1931
1935–1945

Wiranatakusumah V

Raden Adipati Aria Haji Muharam Wiranatakusumah V — tokoh utama; Menteri Dalam Negeri pertama RI dan Pendiri UNPAD.

Warisan

Rehabilitasi Nama

Wiranatakusumah sempat diasingkan dari catatan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang diajarkan di sekolah. Namanya "hilang" karena pernah menjabat sebagai Wali Negara Pasundan dan disamaratakan dengan Wali Negara lain yang lebih pro-Belanda.

Secara resmi, pemerintah RI baru mengakui jasanya melalui pemberian Bintang Mahaputera Adipradana pada 12 Agustus 1992 oleh Presiden Soeharto. Kini, dengan kondisi sosial politik yang lebih terbuka, stigma negatif terhadap Wiranatakusumah terkait Negara Pasundan berangsur-angsur lenyap.

Dokumen perjuangannya sebagai birokrat selama 40 tahun (1910–1950) sudah mulai ditemukan dan masih terbilang utuh — menjadi bukti nyata dedikasi yang tak terbantahkan terhadap bangsa dan negara.

Penghargaan Negara

Bintang Mahaputera Adipradana

Dianugerahkan Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1992, berdasarkan Keppres RI Nomor 048/TK/Tahun 1992 — sebagai kehormatan tertinggi atas jasa yang luar biasa terhadap Negara dan Bangsa Indonesia sebagai Anggota BPUPKI dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Warisan Keluarga

Nama yang Diabadikan

Sekalipun sebutan Wiranatakusumah hanya sah disandang oleh pejabat Bupati Bandung, kini sebutan tersebut diabadikan sebagai nama keluarga oleh keluarga besar Wiranatakusumah V — untuk mengabadikan nama dan jasa besar R.A.A.H.M. Wiranatakusumah V.